Chemical Magazine: You have toured all over the world and you must of seen some amazing places. Where was the most memorable place you have been too?
As I Lay Dying: Indonesia was very memorable to me because I rarely see that type of combination of wealth and poverty directly side by side. It was a beautiful country as well and the fans were absolutely diehard.
—————————————————————————————————————————————————————————-
WOW. So stoked that AILD still remember the warmth we gave to them almost 3 years ago!



VIVAnews - Tak boleh ada anak punk di Aceh. Para punker berambut mohawk dicukur paksa, tindikan dicopot. Tak hanya itu, mereka juga harus menjalani pelatihan militer.
Penertiban anak punk itu bermula dari penertiban konser musik di Taman Budaya Banda Aceh yang ditengarai tak mengantongi izin, akhir pekan lalu. Dari situlah terjaring sebanyak 65 anak punk yang berasal dari Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Tamiang, Takengon, Sumatera Utara, Lampung, Palembang, Jambi, Batam, Riau, Sumatera Barat, Jakarta dan Jawa Barat.
Razia dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan Kepolisian Aceh. Para punker lalu dibina di Aceh di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Seulawah. Pembinaan selama 10 hari itu bertujuan untuk mengubah gaya hidup dan penampilan anak punk yang dinilai bertentangan dengan norma dan mengganggu penerapan syariat Islam di kota Banda Aceh.
Pembinaan itu mendapat reaksi dari kalangan aktivis sipil di Aceh. Penangkapan anak punk dinilai cacat hukum dan dianggap over-reaktif.
“Atas dasar apa mereka ditahan dan dibina dengan cara-cara militer, kenapa tidak di panti sosial atau lembaga lain saja. Konstitusi kita menjamin kebebasan berekspresi sejauh tidak melanggar aturan yang ada,” kata Koordinator Komisi orang hilang dan tindak kekerasan (Kontras) Aceh, Hendra Fadli, Kamis 15 Desember 2011.
Hendra menyebutkan, jika memang dalam konser itu terdapat beberapa anak punk yang melanggar hukum, maka hanya beberapa saja yang ditahan. Pembinaan dengan dalih syariat sama sekali tak mendasar.
“Kalau memang terbukti ada yang melanggar hukum seperti menggunakan narkoba atau melanggar hukum syariat, maka harusnya hanya individunya saja yang ditangkap bukan semuanya,” ujarnya.
Kontras bersama lembaga lainnya akan melakukan upaya advokasi terhadap anak punk yang ditangkap itu. Dia juga mendesak Komnas Perlindungan Anak untuk menginvestigasi kasus penangkapan ini.
“Komnas Perlindungan Anak harus menyelidiki apakah ada anak di bawah umur yang ditahan dan dididik dengan cara militer seperti itu. Karena itu melanggar hak anak,” katanya.
Sementara itu Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, penertiban anak punk itu karena mereka dinilai meresahkan dan mempengaruhi generasi muda di Banda Aceh untuk mengikuti gaya hidup mereka.
“Ini untuk meminimalisasi ajaran sesat dan perilaku yang menyimpang dari norma dan agama. Jika kita biarkan, perilaku mereka akan mempengaruhi generasi muda Aceh,” katanya.
Razia anak punk juga jadi perhatian dunia. Sejumlah media massa internasional, Daily Mail, Washington Post, Strait Times memberitakan kejadian tersebut.
———————————————————————————————————————————————————————-
Satu lagi kekecewaan hadir di Indonesia. Illiza Sa’aduddin Djamal ini penyebabnya. Pola pikir seperti inilah yang mengekang negara kita dari kebebasan dari dulu. Percuma saat kampanye pake bendera Demokrasi. Bhinneka Tunggal Ika, we are closer to the farewell..
Tadi pagi, saya lagi online facebook. Seperti biasa, beberapa menit disana aja udah langsung bosan. Lalu secara gak sengaja saya liat ‘Group Bar’ di sisi kiri ‘Home’ facebook saya. Ada beberapa Group yang sudah lama gak saya jelajahi lagi, maka beberapa pun saya adili dengan ‘Leave Group’. Ya, beberapa dari group tersebut sekarang sudah penuh dengan iklan - iklan gak jelas. Yang online shop lah, kursus mobil lah, operasi plastik lah. The hell. Facebook udah kaya koran harian aja :D
So there’s this one group that stays updated. Saya gak akan menyebutkan nama Group tersebut disini, tapi intinya itu adalah Group tentang kelompok keagamaan tertentu. Kvlt? You name me, hehehe. Seperti Group keagamaan pada umumnya, pasti ada akun - akun iseng yang mencoba untuk memanaskan suasana, and yup, we have some here. Satu akun ini mem-post sesuatu yang kurang lebih seperti ini :
Oleh karena itu. Keyakinan jangan diumbar umbar. Save it to yourself. Mau percaya Tuhan kek, mau percaya Pohon kek, mau percaya Matahari kek, SAVE IT TO YOU. Kita masing masing percaya, keyakinan kita lah yang paling benar, bukan? Logikanya adalah, kalau kita yakin keyakinan kita benar, buat apa diperdebatkan? Buat apa diteriak2an di jalanan? Buat apa takut sama kehadiran keyakinan lain, toh kalau keyakinan kita benar, dan keyakinan yang lain menurut kita salah, bukannya malah membuat kontras dan menonjolkan kebenaran keyakinan kita sendiri?
Maka menurut saya, orang yang terus mencoba memaksakan keyakinannya atas orang lain, adalah orang yang tidak yakin atas keyakinannya sendiri. Bagaimana?
ANGGABAYA bertanya, “Kau tahu dari mana asal kata ‘Ibu Pertiwi’?”
Endo tertegun, mencoba mengingat-ingat sesuatu di bangku sekolah namun tidak ada memori yang tertinggal tentang hal itu. “Katakan padaku, Jenderal.”
“Konsep Ketuhanan Perempuan atau Sacred Feminine, dalam agama Hindu disebut Shaktism adalah salah satu dari tiga wujud Tuhan selain Wisnu dan Shiwa. Dalam perkembangan mitologinya Sacred Feminine, yang juga dikenal dalam novel Dan Brown paling populer, The Da Vinci Code disebut sebagai representasi Holy Grail dan Mary Magdalene. Ini menggali lebih dalam model phanteism sebelum era Christianity tentang Ketuhanan perempuan. Sebuah kepercayaan yang sangat tua namun terus dipelihara dan dijaga sampai saat ini.
“Pada perkembangannya konsep ini melahirkan berbagai ajaran tentang feminisme dan kesetaraan gender. Pemujaan lelaki terhadap perempuan telah bermula sejak Adam tergoda bujuk rayu Hawa yang mengakibatkan mereka terlempar dari surga. Seiring berlalunya waktu, konsep Sacred Feminine disadari atau tidak menjadi representasi para elitis dalam meng-inkarnasi hakikat kaum perempuan serta mengembalikan posisi alamiah mereka sebagai dewi yang dipuja sekaligus yang memberikan kehidupan pada bumi. Konsep ini diadopsi dalam literatur bahasa yang kemudian melahirkan kata ‘Ibu Pertiwi’ atau ‘Mother Earth’”
Setelah pemuda tadi memahami penjelasan tersebut, Anggabaya bertanya, “Kau menonton Avatar?”
“Pasti. Itu film blockbuster favoritku.” Endo menanggapi.
“Seperti Matrix, film Avatar menawarkan padamu kehidupan kembali yang disebut sebagai Tatanan Dunia Baru. Dunia nyata dan dunia khayalan, red pill—blue pill. Itu adalah sebuah impian, menghidupkan Pandora. Agar kau ketahui, Pandora adalah nama dewi pagan kuno yang kekuasaannya dihancurkan oleh patriarki. Secara etimologi, Pandora juga berarti ‘memberikan dengan sepenuh hati’ dan ini merupakan refleksi dari Mother Earth itu sendiri. Konsep film Avatar menjelaskan bahwa Pandora adalah planet di mana kaum Na’vi hidup bersama hutan dan lingkungannya. Dewi mereka disebut Eywa atau Gaia, Ibu yang Agung. Para pemimpin dalam sivilisasi ini adalah kaum perempuan yang memberikan kekuasaan Ketuhanan kepada dewi mereka. James Cameron berhasil menitipkan pesan subliminal kepada jutaan penonton di seluruh dunia bahwa manusia adalah bagian dari kehancuran itu sendiri. Intervensi manusia kepada kaum Na’vi yang begitu menjaga dan memelihara lingkungannya merupakan pengakuan yang harus diterima oleh sebagian besar orang bahwa manusia adalah penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Kita menyalahkan diri kita sendiri. Pada tataran ini aku memahami bahwa manusia memang terlibat dalam sejumlah kerusakan di muka bumi. Akan tetapi bukan itu pokok masalahnya.
“Dalam konsep pemanasan global kita berbicara dalam skala universal, dan seperti yang sudah kujelaskan padamu, pengaruh keterlibatan manusia terhadap destruksifikasi alam sehingga mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu bumi tidak sebesar apa yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain seperti aktifitas matahari, uap air dan emisi gas rumah kaca lainnya. Akan tetapi film Avatar telah mengetuk palu untuk melegalisasi kesalahan manusia lalu menawarkan harmonitas dalam kebersamaan, di bawah sebuah manifesto yang harus disepakati oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Manifesto itu adalah menghormati tradisi-tradisi lama yang menjaga keseimbangan antara populasi manusia dengan alam, bersatu untuk membangun budaya baru, kedamaian dan keadilan, mendukung kebebasan beragama dan ekspresi-ekspresi spiritual serta mengajak lebih banyak manusia dalam partisipasi global untuk memulai Tatanan Dunia Baru.
Diktum-diktum ini persis seperti apa yang dipahat dalam prasasti batu Georgia Guidestone.
Manipulasi isu lingkungan dalam film terlaris sepanjang sejarah, Avatar
“Ketika kaum Na’vi berucap ‘I see You’ dalam bahasa Pandora ia mengatakan ‘Namaste’, kata ini serupa dengan frasa Hindi yang berarti ‘the divine in me sees the divine in you’. Kau tahu, agama Hindu salah satu agama besar dengan konsep phanteism yang sangat berakar. Phanteisme adalah model Ketuhanan yang memberikan hakikat plural pada dzat Tuhan. Bahwa Tuhan berada di mana-mana, dan segala sesuatu itu bagian dari Tuhan.”
“Baiklah, jadi Avatar adalah kampanye tiga jam tentang propaganda lingkungan dan penghancuran iman.” Urai Endo, “Nah, mari kembali pada pernyataan Anda sebelumnya, bahwa isu lingkungan ini berkaitan dengan Teori Evolusi yang sudah dibangun sejak zaman Victoria.”
“Menurut para environmentalis, Mother Earth…” jelas Sang Jenderal, “atau ibu pertiwi memiliki struktur dan cara tertentu untuk mengelola dirinya sendiri, dan manusia bertanggung jawab menjaga serta memelihara apa yang telah diberikan oleh Sang Ibu, The Sacred Feminine, agar bumi dan manusia berjalan seimbang dalam harmoni. Nah, pada titik ini ketika Tuhan Sang Pencipta tidak lagi dilibatkan dalam pemikiran heretik manusia maka Teori Evolusi, sekali lagi mendapatkan pengakuan dari umat manusia bahwa seluruh yang hidup berada dalam siklus yang terus tumbuh dan bergerak, merestorasi kehidupannya sendiri, karena materi tidaklah diciptakan, namun ia ada dengan sendirinya sehingga campur tangan Tuhan tidak lagi dapat dibuktikan.”
We are part of Nature and Nature is part of us, therefore God is part of us, and God is everywhere, and everything is God – Konsep Pantheism Buku Gaia oleh Sir James Lovelock. Buku ini digunakan sebagai panduan environmentalis dalam mengkampanyekan isu lingkungan global.
Buku Gaia, yang menjadi rujukan teologi ketuhanan para environmentalis
Jadi kemana semua ini bermuara? Agenda lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh manusia sehingga mahluk yang dijadikan khalifah di muka bumi ini harus dihukum. Konsep ini terlalu besar untuk dapat dipercaya sebagai sebuah propaganda. Terlalu tidak masuk akal dan terlalu naïf. Bukankah manusia memang terlibat dalam kerusakan itu sendiri? Tidak diragukan lagi, setiap komponen kemanusiaan mengakui hal itu. Manusia telah membuat perang, menghabiskan sumber daya alam, menghancurkan ekosistem, merusak atmosfer dan melubangi ozon, mereka juga membunuh sesama, memutus hubungan spiritual dengan bumi, mengingkari Gaia.
Kenapa model yang dikembangkan para elitis harus berputar pada isu lingkungan?
Anggabaya mengulangi pertanyaan Endo, “Kenapa model yang dikembangkan para elitis harus berputar pada isu lingkungan?” kemudian menjawabnya, “Karena lingkungan itu sendiri adalah sumber kehidupan, Anakku. Lingkungan itu adalah bumi, tempat aku dan kau berpijak. Tempat di mana tujuh miliar orang hidup dan beranak pinak. Isu lingkungan adalah isu tentang bumi, bahan bakarnya adalah pemanasan global dan penjahatnya adalah manusia. Mereka sedang menciptakan perang, dan karena itu skalanya harus global, bukan lagi regional seperti era dua perang dunia sebelumnya.
Bila kita membahas topik tertentu mengenai bumi maka kau tidak akan bisa melepaskan satu keping pun lini-lini kehidupan darinya. Kau harus membahas persoalan pokok mengenai makanan, dan kontrol makanan adalah bagian dari propaganda ekonomi yang kemudian melahirkan penguasaan jalur distribusi dari hulu ke hilir melalui pemusnahan hewan ternak menggunakan isu pandemi flu burung, flu babi, anthrax dan lain sebagainya.
“Selain itu kau harus mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan transportasi, karena kendaraan apa pun itu berperan serta memproduksi emisi. Dan polusi dari kendaraan bermotor telah menjadi salah satu penyebab terbesar efek gas rumah kaca. Pada titik ini, pemerintah harus mengikuti langkah-langkah yang ditetapkan bersama dalam Protokol Kyoto. Itu berarti pemerintah harus membuat kebijakan berkenaan dengan persoalan ini dan mengatur bagaimana kau menggunakan kendaraanmu secara bijaksana. Kemudian jika itu berkenaan dengan transportasi maka sumber-sumber pokok kehidupan lainnya akan berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Infrastruktur, retail, perumahan, jasa, distribusi makanan serta hubungan antar manusia. Transportasi adalah faktor vital yang mempengaruhi ekonomi sebuah negara.
“Pabrik dan industri juga bertanggung jawab terhadap asap yang luruh ke ozon, termasuk produk bernama rokok yang dihisap miliaran orang di seluruh dunia. Kaum industrialis adalah golongan manusia yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap tingginya pelepasan CO2 di atmosfer, sehingga mereka juga menjadi pihak yang paling keras melawan isu lingkungan ini.
“Faktor ekonomi, tentu merupakan salah satu motif terbesar dalam propaganda ini. Karena itulah regulasi cap dan trade serta perdagangan karbon ditetapkan. Negara yang mengeluarkan emisi lebih kecil bisa menjual karbonnya di pasar karbon kepada negara-negara industri. Indonesia adalah bagian dari perjanjian itu sendiri. Program REDD memungkinkan Indonesia menjual jatah karbon yang tidak terpakai kepada negara-negara besar. Yang menarik, negara-negara besar tidak dibebani dengan sanksi dan hukuman apabila mereka gagal mengurangi emisi gas rumah kaca selain membayar pajak karbon dan membeli kelebihan karbon melalui perdagangan karbon. Sehingga negara industri yang memiliki banyak uang bisa dengan mudah membeli karbon milik negara-negara berkembang.
“Konstelasi politik menjadi sasaran tertentu para elitis dan environmentalis dunia karena panggung politik harus diciptakan seirama dengan agenda-agenda yang sudah dirancang sedemikian rupa. Ingat, isu lingkungan ini bukan hal baru. Agenda ini dibangun sejak tahun 1970-an oleh para elit environmentalis Club of Rome. Selama empat-lima dekade kemudian pemimpin negara-negara berkembang dan negara ketiga haruslah mereka yang mendapatkan persetujuan para elit internasional.
“Hingga akhirnya, Anakku, bagian terpenting dari propaganda ini akan menyentuh urat nadimu, menghisap darahmu dan meninggalkanmu dalam keadaan tak berdaya. Program ini akan berakhir pada kontraksi ideologi. Program ini akan menghidupkan kembali sosialisme dan atheisme yang dianggap telah mati setelah kapitalisme meruntuhkan Uni Sovyet. Program ini merubah cara pandangmu sehingga mempengaruhi keyakinan dasarmu sebagai umat manusia terhadap model Ketuhanan yang hakiki. Agama adalah pondasi, bila kau bertahan dengannya maka kau tetap punya peluang untuk menata kehidupan ini dengan lebih baik dan menghancurkan siapa pun musuh-musuhmu. Namun bila keyakinanmu berubah karena implikasi dari bersatunya umat manusia dalam harmoni keseimbangan alam, keinginan untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baru yang mengatur agama dan cara pandangmu maka kau akan menjadi bagian dari hamba sahaya yang diciptakan melalui konsep artificial oleh para environmentalis. Kau akan kehilangan segala-galanya. Kau akan menjadi model terbaru dari kepercayaan phanteisme Gaia-Thesa.
Gaia, dewi Yunani kuno yang menjadi simbol Ibu Pertiwi. Poster2 ini laris dikampanyekan saat Konferensi Lingkungan, termasuk di Bali bbrp tahun lalu. Gaia-thesa adalah cikal bakal model teologi yang diusung environmentalis
“Ingatlah bahwa missing link dalam Teori Evolusi itu adalah cara berpikirmu. Dogma inilah yang hilang dari mata rantai galur kehidupan. Bukalah matamu, dan belajarlah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena kau harus tahu, bahwa program lingkungan ini memiliki target dan sasaran.” Anggabaya berhenti sebentar, memastikan Endo memahami apa yang disampaikannya sekaligus memastikan jawabannya tepat sasaran.
Tidak lama setelahnya Jenderal mengetuk dadanya dengan telunjuk. Ia berkata, “Pada setiap desah nafasmu, Anakku, ada uang yang harus kau bayarkan pada para environmentalis ini. Mengapa? Karena pada setiap hembusan nafas itu kau telah memproduksi CO2 yang semuanya diatur dalam pajak karbon. Setiap detik kehidupanmu adalah milik orang-orang ini, mereka yang menguasai jiwa ragamu. Seperti inilah cara mereka memerangkap kebebasanmu dan memintal tubuhmu dalam peti mati.”
Lalu apa hubungannya semua program ini dengan negara tercinta, Indonesia?
Please read INDONESIA INCORPORATED, available soon from Salsabila Kautsar Utama. Prikitiew :)